Efektivitas Kerja Karyawan Meningkat dengan 4 Kiat Ampuh Berikut

efektivitas kerja karyawan

Dalam era digital seperti sekarang ini, efektivitas dan efisiensi adalah kunci dari semua pekerjaan. Dalam sebuah organisasi perusahaan, Departemen HR dituntut untuk mampu menciptakan sistem kerja untuk karyawan yang efektif dan efisien sehingga produktivitas perusahaan terus meningkat. Berikut disajikan empat kiat ampuh untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja karyawan.

1. Mendorong Komunikasi yang Transparan

Sepasang kaki harus bisa beriringan dengan baik agar bisa digunakan untuk berjalan. Sama halnya dalam perusahaan, mendorong jalur komunikasi yang transparan antara pihak manajerial dan karyawan akan membuat setiap pekerjaan berjalan dengan baik dan lebih inovatif. Karyawan harus merasa bahwa mereka dapat dengan mudah dekat HR tanpa rasa khawatir dan takut dengan masalah yang mereka miliki.

Dengan memahami permasalahan ini, HR dapat mengambil langkah yang diperlukan untuk memperbaiki berbagai prosedur dan proses yang ada atau malah menghilangkan prosedur yang hanya membuang waktu dan tidak efektif. Tindakan proaktif dari HR akan berdampak positif bagi perusahaan, diantaranya rasa ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan karyawan dapat teratasi sehingga akan mengurangi biaya untuk penyuluhan dan mencari karyawan baru.

2. Bekerja Sebagai Tim

Kesalahan yang sering terjadi dalam perusahaan adalah membiarkan sekat pemisah antara pihak manajerial dengan karyawan terus melebar. Pihak manajerial terlalu sibuk dengan urusan pribadinya, sehingga karyawan merasa pihak manajerial hanya peduli dengan pekerjaannya, tidak dengannya. Hal ini akan berdampak buruk pada kondisi psikologi karyawan, jika dibiarkan akan mempengaruhi efektivitas kerja karyawan dalam perusahaan.

Layaknya organ tubuh yang harus saling bekerjasama untuk bisa melakukan fungsi normalnya, perusahaan pun sama. Sekat pemisah antara pihak manajerial dan karyawan harus dihilangkan agar perusahaan dapat bergerak maju secara bersamaan. Pihak manajerial melalui HR dituntut untuk mampu memberikan rasa percaya dan meyakinkan karyawan bahwa mereka adalah bagian terpenting untuk keberlangsungan perusahaan.

3. Melakukan Modernisasi

Di era yang semakin canggih seperti sekarang, masih saja ditemui beberapa perusahaan yang enggan melakukan modernisasi pada perangkat kerja yang dimiliki. Alasannya cukup bervariasi, mulai dari keterbatasan biaya hingga ketidakpercayaan terhadap teknologi. Bekerja dengan sistem tradisional sangat tidak efektif dan efisien karena dibutuhkan lebih banyak waktu untuk bekerja. Selain itu produktivitas perusahaan akan menjadi lebih lambat dari perusahaan lain, akhirnya perusahaan akan sulit bersaing di pasar bebas.

Sudah saatnya melakukan modernisasi pada semua perangkat kerja yang digunakan karyawan. Dalam bagian produksi gunakan mesin-mesin berteknologi canggih untuk membantu karyawan melampaui target pekerjaannya dengan cepat. Gunakan komputer sebagai basis data utama perusahaan dan buang semua arsip-arsip kuno yang sudah lapuk dimakan usia. Dalam hal absensi perusahaan juga bisa beralih dari absensi fingerprint ke AbsenKu Profesional, aplikasi absensi online berbasis Android dan IOS yang akan memudahkan karyawan melakukan absensi karena dapat digunakan melalui smartphone masing-masing karyawan. Dengan AbsenKu Profesional waktu yang diperlukan untuk absensi yang biasanya sangat lama akan dipangkas secara signifikan.

4. Memberikan Evaluasi

Sebagian besar perusahaan umumnya memiliki evaluasi bulanan, tahunan, atau bahkan dua tahunan. Hal ini bagus untuk menganalisis kinerja karyawan, namun lebih sering evaluasi ini hanya dianggap sebagai bentuk formalitas belaka. Untuk benar-benar mendorong sebuah perusahaan agar dicapai efektivitas dan efisiensi bekerja yang sesuai, seorang HR diharuskan untuk mengubah sistem evaluasi menjadi suatu wadah untuk memberikan feedback yang membangun untuk karyawan. Evaluasi ini sebaiknya dikemas sebagai urusan informal yang bisa dilakukan secara pribadi di Perusahaan.

Pertemuan untuk evaluasi dapat dimanfaatkan sebagai platform untuk memberikan feedback kepada karyawan tentang bagaimana progress pekerjaan mereka dan untuk menunjukkan perilaku tertentu yang harus didorong atau diredam. Sebagai contoh, apresiasi diberikan kepada karyawan yang telah melaksanakan inisiatif ekstra untuk mendorong karyawan mempertahankan inisiatif tersebut. Sedangkan karyawan yang menampilkan perilaku negatif dapat didekati dan diberikan konseling sebagai bentuk feedbak korektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *