Work-Life Balance, Kunci Hidup Produktif dan Bahagia

work life balance

Karyawan-karyawan yang sibuk sering kali berkata, “Saya harus melakukan ini dan itu secepatnya.” Hidup mereka terbebani begitu banyak tugas, bahkan sampai kehilangan kontrol atas hidupnya sendiri.

Sebelum era smartphone dan laptop, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat jelas. Kita bekerja ketika tiba di kantor saat pukul delapan pagi, dan berhenti bekerja pada pukul lima sore.

Tidak demikian dengan era sekarang. Lewat smartphone, kita bisa berkirim email dan melakukan koordinasi pekerjaan kapan saja. Semua bisa asal ada internet. Lambat laun, pekerjaan pun menyusup masuk ke waktu pribadi, jam tidur, bahkan hari libur. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mulai kabur.

Hal ini bisa membuat keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi — lebih familiar dengan istilah work-life balance—menjadi terganggu.

Seberapa penting sebetulnya keseimbangan di dunia kerja dan pribadi?

Keseimbangan hidup yang buruk akan menurunkan produktivitas. Bayangkan Anda masih harus mengecek email saat sudah di atas ranjang. Padahal penggunaan gadget sebelum tidur dapat mengganggu kualitas dan kuantitas tidur. Akibatnya, keesokan harinya Anda menjadi sulit fokus pada pekerjaan, bahkan bisa jatuh sakit bila terus berlanjut untuk waktu lama.

Selain itu, hal tersebut juga dapat merusak diri secara mental. Daya konsentrasi manusia memiliki batas, dan bila Anda terpapar pada satu hal yang sama terus-menerus, Anda akan kelelahan sehingga mengalami burnout.

Ada banyak kiat supaya pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak bercampur, kami ulas beberapa di antaranya.

Menjaga work-life balance

Work-life balance adalah tentang mengatur waktu dan prioritas sehingga Anda bisa bekerja lebih efektif dan efisien, sambil tetap memiliki kehidupan pribadi yang memuaskan. Untuk mendapatkan hal tersebut, pertama-tama Anda perlu membatasi diri.

Misal mengenai jam kerja. Sebagai contoh, Anda harus pastikan diri Anda dan seluruh tim harus mulai kerja sebelum jam 10 pagi, dan harus berhenti kerja setelah lewat jam 8 malam (kecuali sangat mendesak, seperti mengenai hal-hal yang bisa berakibat buruk bagi perusahaan).

Gunakan tools yang bisa memonitor ini dengan akurat dan mudah. AbsenKu Profesional bisa menjadi solusi tepat.

AbsenKu Profesional merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Anda juga bisa menerapkan batasan untuk mengecek email. Buatlah aturan/himbauan pada karyawan agar hanya mengecek email di rentang waktu jam 09.00-18.00. Email sering kali bisa mendatangkan pekerjaan tambahan, jadi melakukannya di penghujung jam kerja adalah ide buruk.

Membuat batasan terhadap diri juga bisa dilakukan dengan cara merancang to-do list. Catatlah semua tanggung jawab Anda, baik pekerjaan maupun di luar kerja, kemudian tentukan mana yang harus diprioritaskan, mana yang bisa didelegasikan, dan mana yang bisa ditunda.

Beberapa aktivitas yang perlu dihindari agar work-life balance tetap terjaga di antaranya:

  • Mengecek email kerja di luar jam kerja, atau ketika akhir pekan.
  • Mengirim email kerja di luar jam kerja, atau ketika akhir pekan.
  • Membatalkan rencana bersama orang terdekat karena pekerjaan
  • Makan siang di meja kerja
  • Mengiyakan tugas baru, padahal Anda sudah cukup sibuk
  • Melupakan hobi karena terlalu lelah bekerja

Buatlah checklist seperti daftar di atas untuk mengevaluasi work-life balance milik Anda saat ini. Bila semua poin di atas Anda alami, artinya keseimbangan hidup Anda sangat buruk. Sadari kebiasaan mana yang perlu diubah, kemudian cari cara untuk mengubahnya.

Jika Anda adalah seorang pemimpin perusahaan, pahami hal ini

Khusus untuk para pemimpin (founder, CEO, manajer, atasan, leader, atau apa pun istilah yang Anda gunakan), ingatlah bahwa Anda tidak hanya bertanggung jawab atas work-life balance diri Anda sendiri, tapi juga para karyawan Anda. Karena itu, Anda juga wajib membatasi diri dalam memberi tugas.

Jangan memanfaatkan jabatan Anda. Karyawan bagaimanapun juga akan cenderung untuk selalu berkata “iya” ketika Anda memberi mereka tugas, meskipun sebenarnya tugas mereka sudah terlalu banyak. Akibatnya mereka jadi memaksakan diri lalu akhirnya gagal sehingga tampak seolah-olah gagal perform di mata Anda.

Bangunlah budaya perusahaan terkait kebebasan bagi siapapun dalam perusahaan untuk berpendapat. Mulai dari Anda sendiri. Anda harus meyakinkan para bawahan Anda bahwa mereka boleh menolak tugas bila terlalu banyak. Biarkan karyawan fokus hanya pada tugas utama dan selalu pertimbangkan dengan matang sebelum Anda memberi tugas tambahan.

Mengakhiri jam kerja dengan perasaan senang juga akan sangat membantu meningkatkan produktivitas pada keesokan harinya. Sebagai pemimpin, Anda perlu menunjukkan hal ini pada bawahan Anda. Terdengar mudah, tapi dalam pelaksanaannya bukan perkara sederhana. Tidak mudah mengakhiri hari dengan perasaan bangga terhadap diri sendiri, karena tidak setiap hari kita merasa produktif. Tak jarang kita kecewa terhadap performa diri karena merasa bekerja dengan hasil di bawah rata-rata. Jangan biarkan perasaan semacam itu berlarut-larut dan membuat Anda jadi makin tidak produktif. Memaafkan diri Anda ketika sedang menunda sebuah pekerjaan dapat membantu mengurangi kebiasaan menunda-nunda di masa depan.

Selain itu, Anda juga dapat mencoba untuk mengakhiri jam kerja dengan menunjukkan rasa terima kasih kepada para kolega. Menunjukkan rasa terima kasih adalah salah satu cara tercepat meningkatkan mood. Anda dapat memulainya dengan berbincang singkat dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

***

Work-life balance bukanlah bermalas-malasan, tapi merupakan pola di mana Anda berperan aktif menentukan hidup Anda sendiri. Dengan membuang hal-hal nonesensial, Anda bisa fokus pada hal yang benar-benar penting. Butuh sikap tegas untuk melepaskan hal-hal nonesensial tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *