Ini Alasan Mengapa Multitasking Tidak Membuat Anda Lebih Produktif

Mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus (multitasking) mungkin terlihat efisien, beberapa bahkan menuliskannya sebagai ‘special skill’ saat melamar pekerjaan di tempat lain. Padahal, berdasar penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance, menunjukkan bahwa multitasking justru menghambat produktivitas. Temuan ini mengacu pada akumulasi waktu yang terbuang percuma saat kita berganti tugas. Bahkan, hal tersebut bisa menjadi kian merugikan saat mengerjakan sesuatu yang sulit. Sebab, waktu yang tertunda akan jauh lebih lama.

Multitasking membuang banyak waktu

Beberapa orang ingin dilihat oleh orang lain sebagai orang yang mampu mengerjakan semuanya dengan baik dan tepat waktu. Inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa banyak orang melakukan multitasking.

Realitanya, multitasking justru berpotensi membuat Anda tertekan.

Mengapa? Karena saat mengerjakan satu hal lalu berpindah mengerjakan hal lainnya, tanpa disadari hal ini malah membuat kita berpikir lebih keras, berkonsentrasi lebih kuat agar tidak melakukan kesalahan. Pergantian fokus yang cepat inilah yang membuat kita lebih rentan stres.

Bekerja secara multitasking memaksa Anda untuk memecah fokus menjadi beberapa bagian berbeda, yang mana ini sudah jelas-jelas tidak efektif. Kualitas performa akan jelas berkurang karena kita tidak bekerja secara total.

Para peneliti dari Stanford University juga telah melakukan perbandingan terhadap sekumpulan orang berdasarkan tendensi multitasking yang dipercaya dapat meningkatkan performa kerja mereka. Hasilnya, mereka dengan tingkat multitasking tinggi malah menunjukan performa yang buruk dibanding mereka yang lebih suka melakukan pekerjaan satu-persatu. Multitasking mengurangi efisiensi dan performa kerja karena pada dasarnya otak kita hanya dapat fokus pada satu hal utama di satu waktu.

Ketika kita melakukan dua hal berbeda secara bersamaan, otak akan mengalami kekurangan kapasitas untuk menyalurkan performa dengan lancar pada kedua aktivitas. Saat multitasking, kita cenderung menggunakan energi berlebih yang sebenarnya bisa difokuskan pada satu pekerjaan, sehingga pekerjaan tersebut lebih cepat selesai dengan hasil yang maksimal. Baru setelah itu lanjut ke tugas selanjutnya.

Ketahui apa sebetulnya prioritas Anda

Telah ada banyak saran yang menyebut bahwa Anda harus menyusun skala prioritas. Yang menjadi masalah adalah, tak mudah untuk konsisten pada hal tersebut. Setelah skala prioritas disusun, artinya Anda terikat dengan itu.

Yakinlah bahwa dengan fokus mengerjakan satu pekerjaan, Anda malah bisa menghasilkan output yang lebih efektif dan optimal.

Pekerjaan yang menumpuk bukan berarti Anda harus mengerjakan semuanya secara bersamaan. Cobalah untuk mengatur prioritas kerja sehingga Anda bisa lebih terorganisir dan efektif, sehingga Anda bisa menunjukkan performa yang lebih produktif.

Datanglah tepat waktu agar mampu mengerjakan lebih banyak hal. Jangan lupa juga istirahat tepat waktu, dan pulang kantor tepat waktu. Pastikan semuanya selesai pada hari terakhir Anda bekerja di minggu tersebut agar awal pekan nanti Anda lebih segar.

Penggunaan teknologi seperti aplikasi Absenku yang mampu memonitor dan mengarsipkan hal di atas akan sangat membantu, baik bagi Anda sebagai karyawan, maupun bagi perusahaan. Anda mampu mengontrol diri Anda, sementara perusahaan juga dapat memiliki data valid mengenai performa dan tingkat disiplin Anda.

Absenku merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone saja, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Karyawan bisa memantau performa mereka sendiri, mulai dari kedisiplinan masuk kerja, kapan mereka ambil cuti dan berapa lama waktu mereka untuk lembur. HRD akan lebih mudah mengontrol absensi karyawan, meng-acc pengajuan cuti, mendata lembur karyawan tanpa harus repot dan banyak lagi.

Pimpinan pun dapat menggunakan AbsenKu Profesional untuk mengecek seluruh data karyawan. Sehingga dari data tersebut dia berhak menentukan, manakah karyawan yang berhak mendapat apresiasi dan mana yang berhak mendapat teguran secara adil.

Pimpinan bahkan bisa memantau seluruh data performa kinerja karyawan secara real time di manapun dia berada tanpa terpaku pada alat yang meribetkan. Cukup dengan satu genggaman saja lewat AbsenKu Profesional, kerja pimpinan akan jadi lebih praktis dan efisien.

Ada juga beberapa yang menganggap bahwa bekerja kurang dari 40 jam/minggu bukanlah hal yang baik dari sisi finansial. Hal ini terutama berlaku untuk para freelancer yang tak memiliki jam kerja tetap.

Dalam kasus tersebut, kuncinya adalah menjalin komunikasi yang baik dengan klien. Stres dari pekerjaan dibantu dengan kesepakatan dengan klien, seperti kapan jam dan hari untuk berkomunikasi mengenai proyek yang tengah ditangani.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *