Etika yang Sering Dilupakan Generasi Milenial di Kantor

etike generasi milenial

Generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 – 1994. Mereka tumbuh di era ‘banjir’ informasi dan teknologi yang mempengaruhi cara berpikir dan berinteraksi.

Perbedaan pendapat dan perspektif antar generasi adalah sesuatu yang lazim, tapi setidaknya untuk saat ini, generasi milenial perlu beradaptasi dan belajar bagaimana bekerja dengan atasan dari generasi berbeda yang memiliki pola pikir, cara komunikasi, dan ekspektasi yang berbeda pula.

Jika saat ini Anda mendapat tugas menangani tim yang berisikan generasi milenial, seperangkat keahlian dan etika ini akan menjadi petunjuk berguna bagi Anda untuk sukses menaiki jenjang karier.

  1. Kerap mengabaikan komunikasi dua arah

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan internet, mudah sekali merasa tidak ada yang mereka ketahui: seluruh informasi di dunia bisa diakses dengan satu klik!

Bagus memang, tapi hal itu membuat mereka kerap merasa paling tahu dibanding generasi yang lebih senior, sehingga mengabaikan pendapat orang lain.

Manfaatkan kelebihan yang mereka miliki ini dengan memancing mereka aktif berpartisipasi saat meeting. Latih agar mereka dapat menyampaikan ide atau pendapat, persiapkan argumen dan pernyataan yang logis dan bisa dipertanggung jawabkan. Jangan asal berkicau saja.

Kesampingkan ego Anda, ini adalah waktunya generasi mereka show-off.

  1. Mengabaikan tata krama komunikasi tertulis

Sehari-hari, mereka sudah terbiasa dengan komunikasi yang bersifat lebih kasual dan tidak terikat aturan bahasa yang kaku. Popularitas emoji sedikit banyak juga mengubah dinamika komunikasi tertulis, yang mana simbol dan gambar menggantikan kata-kata sebagai penadah informasi.

Pastikan Anda menjadi panutan yang baik dalam tata krama ini. Selalu gunakan gaya bahasa lebih formal dengan memperhatikan pengejaan dan tanda baca yang baik dan benar saat berkirim surel dengan mereka. Satu lagi: selalu, selalu hindari menggunakan emoticon untuk komunikasi bersifat profesional.

  1. Tidak peduli dengan gaya busana

Dari sesi wawancara hingga busana kerja, pastikan bahwa mereka paham mengenai aturan universal tentang ‘tampil rapi dan profesional’. Bukan masalah besar jika mereka adalah tim di belakang layar, tapi jika mereka harus sering bertemu klien, Anda perlu memberi perhatian khusus mengenai hal ini.

Sampaikan dengan lugas dan berilah contoh lewat tindakan. Itu artinya, Anda juga harus memperhatikan gaya busana Anda.

  1. Terlalu fleksibel mengenai waktu kerja

Beberapa dari mereka beranggapan, jika datang siang mereka hanya perlu menambah kerjanya hingga larut malam. Hal seperti itu juga dianggap wajar di industri kreatif. Namun, Anda perlu memberi tahu mereka bahwa waktu produktif orang lain tidak bisa dipaksakan mengikuti mereka. Misal, ada klien yang butuh bertemu untuk diskusi di pagi hari, atau pekerjaan dari atasan yang diperlukan sebelum tengah hari, hal tersebut tentu akan menyusahkan jika mereka datang siang. Meskipun secara jumlah jam kerja mereka menggantinya sampai malam.

Anda perlu tegas terhadap permasalahan seperti ini. Gunakan tools yang mampu mengukur tingkat disiplin mereka secara valid, cepat dan mudah, seperti aplikasi Absenku.

Absenku merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone saja, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Karyawan bisa memantau performa mereka sendiri, mulai dari kedisiplinan masuk kerja, kapan mereka ambil cuti dan berapa lama waktu mereka untuk lembur. HRD akan lebih mudah mengontrol absensi karyawan, meng-acc pengajuan cuti, mendata lembur karyawan tanpa harus repot dan banyak lagi.

Pimpinan pun dapat menggunakan AbsenKu Profesional untuk mengecek seluruh data karyawan. Sehingga dari data tersebut dia berhak menentukan, manakah karyawan yang berhak mendapat apresiasi dan mana yang berhak mendapat teguran secara adil.

Pimpinan bahkan bisa memantau seluruh data performa kinerja karyawan secara real time di manapun dia berada tanpa terpaku pada alat yang meribetkan. Cukup dengan satu genggaman saja lewat AbsenKu Profesional, kerja pimpinan akan jadi lebih praktis dan efisien.

  1. Tidak paham bahwa perjalanan karir butuh proses

Benar, semua hal perlu serba cepat dan waktu adalah uang. Anda juga paham jika mereka ingin segera sampai dari titik A ke titik B SAAT INI JUGA, tapi Anda perlu membuat mereka mengerti kalau ada proses untuk segalanya. Pertimbangkan bahwa di tengah proses tersebut, pengetahuan dan pengalaman yang akan mereka peroleh selama bekerja di sebuah perusahaan akan membuat persiapan mereka melangkah ke titik selanjutnya semakin matang.

Selain itu, berilah penjelasan pada mereka untuk hati-hati berpindah kerja jika baru masuk beberapa bulan karena tidak sedikit perusahaan yang kurang sreg dengan kandidat yang terkenal sebagai ‘kutu loncat’.

  1. Tidak paham tata krama dasar

Kesopanan akan menjadi fitur yang membuat rekan nyaman bekerja dan membentuk reputasi profesional Anda sebagai seseorang yang kredibel. Bangun budaya untuk selalu ucapkan “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf” jika diperlukan dan selalu hormati rekan kerja, tanpa peduli usia atau ada tidaknya hierarki di tempat kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *