Bekerja Lebih dari 40 Jam/Minggu, Baik atau Buruk?

absenku 2

Bekerja keras itu boleh saja. Asal jangan sampai mengorbankan kesehatan sendiri. Bagaimana pun kesehatan, baik tubuh maupun pikiran merupakan investasi yang sangat penting. Jika kesehatan tak dijaga dengan baik, kita jelas tak bisa melakukan apa-apa. Jangankan bekerja, beraktivitas pun sulit rasanya.

Peneliti soal hubungan produktivitas pegawai dan jumlah jam kerja dilakukan oleh Draugiem Group. Mereka melakukan penelitian dengan aplikasi komputer yang mampu melacak kebiasaan pekerja di dalam jam kerja. Hasilnya, terungkap bahwa durasi kerja bukanlah faktor satu-satunya yang memengaruhi produktivitas. Yang lebih berpengaruh adalah bagaimana pekerja mengelola waktu mereka.

Berdasarkan penelitian tersebut, pekerja religius yang sering mengambil waktu istirahat singkat untuk beribadah ternyata jauh lebih produktif dibanding pekerja yang bekerja pada durasi yang lebih lama.

Sistem kerja dengan mengkombinasikan waktu kerja selama 52 menit, diikuti dengan waktu istirahat selama 17 menit diklaim sebagai sistem ideal untuk mengoptimalkan produktivitas. Alasannya, dengan adanya waktu istirahat, pekerja akan dapat mengoptimalkan 100 persen kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas.

Waktu istirahat yang diberikan dapat membuat pekerja untuk sementara waktu terbebas dari tugas-tugas sehingga dapat menyegarkan otak kembali.

Hasil penelitian Dragium Grup itu diperkuat oleh penelitian lain yang dilakukan oleh pengembang DeskTime, aplikasi komputer untuk mengukur kebiasaan pekerja yang paling produktif. Analisis data yang dilakukan oleh DeskTime; pekerja dengan tingkat produktivitas tertinggi cenderung bekerja dengan konsentrasi penuh selama 52 menit, dilanjutkan dengan istirahat selama 17 menit. Waktu 17 menit itu, oleh pekerja yang produktif tadi, digunakan untuk jalan-jalan, berolahraga, atau sekadar ngobrol dengan pekerja lain.

Tentu saja hasil studi-studi tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan acuan untuk seluruh industri kerja. Hasil penelitian pun beragam, dari yang mengklaim jam kerja ideal hanya sebatas 4 jam per hari, 5 jam per hari, 6 jam per hari, hingga yang 7 jam per hari.

Namun, satu hal yang jelas, kerja 8 jam per hari atau bahkan lebih dinilai sudah usang. Jam kerja tersebut justru memberikan dampak buruk bagi pekerja perusahaan, yang akhirnya justru mengurangi produktivitas dan capaian perusahaan itu sendiri.

Efek di hari tua

Pada tahun 2016, sekelompok peneliti dari Melbourne Institute of Applied Economic and Social Research di Australia, mengadakan tes membaca, pola dan ingatan terhadap lebih dari 6.000 karyawan di atas 40 tahun untuk melihat bagaimana jumlah jam kerja per minggu seseorang dapat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Hasilnya, setelah usia menginjak angka 40 tahun, bekerja 40 jam/minggu ternyata justru bisa berakibat buruk.

Bekerja memang dapat menstimulasi aktivitas otak dan membantu menjaga fungsi kognitif pada pekerja yang lebih tua, tapi pada saat bersamaan, bekerja secara berlebihan dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan kelelahan serta stres fisik dan/atau psikologis, yang bisa berdampak pada rusaknya fungsi kognitif.

Mengapa usia 40 menjadi titik baliknya?

Masih dari sumber yang sama, cara kita memproses informasi, mulai menurun pada usia 20 tahun, lalu cara kita menggunakan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman mulai menurun setelah usia 30. Kemudian pada usia 40, sebagian besar orang mulai menurun performanya pada uji ingatan, pengenalan pola dan latihan kecepatan otak.

Temuan para peneliti tersebut menunjukkan bahwa meski kondisi ekonomi memaksa kita untuk bekerja lebih lama daripada generasi sebelumnya, secara emosi dan biologis, otak kita tidak dirancang untuk stres dan rutin bekerja delapan jam sehari, lima hari seminggu pada usia di atas 40.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa karyawan dari berbagai usia yang bekerja berlebihan bisa mengalami stres kronik, kerusakan kognitif dan gangguan mental.

Stres mempengaruhi fungsi kognitif terutama lewat hormon, khususnya pada hormon steroid dan hormon stres, kortisol, pada otak, yang dapat berdampak pada ingatan jangka pendek, konsentrasi, kemampuan untuk bertindak alami dan pikiran rasional.

Namun ada faktor lain yang menyebabkan usia 40 sebagai titik yang kritis, yaitu fakta mengenai “sandwich years” atau tahun-tahun di mana banyak orang dewasa memiliki sedikitnya satu orang untuk diurus, seorang anak atau orangtua yang menua, selain juga harus bekerja full-time. Artinya ada banyak lain yang harus diurus selain pekerjaan utama, sehingga orang tersebut jarang beristirahat.

Faktor kurang tidur

Tidur juga memainkan peran penting dalam kemampuan bertahan dalam pekerjaan sepekan penuh. Sampai baru-baru ini, orang-orang sukses sering membanggakan diri bahwa mereka hanya butuh waktu sedikit untuk tidur.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher mengatakan, dia bisa bekerja secara efektif hanya dengan tidur empat jam — meski kemudian info terbaru menunjukkan bahwa Thatcher mampu melakukan itu karena dia juga rutin tidur siang.  

Arianna Huffington, pemimpin redaksi Huffington Post, mengklaim bahwa dia hanya tidur lima jam semalam sampai dia sadar bahwa hal itu buruk bagi kesehatannya.

Sebenarnya, harus selama apa kita tidur? US National Sleep Foundation menyarankan lebih dari tujuh jam seminggu untuk orang-orang di atas usia 26 tahun.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Disiplinlah pada diri Anda sendiri. Tentu tidak mungkin Anda berharap mampu mengubah sistem sebuah perusahaan, apalagi jika tempat Anda bekerja memiliki ratusan hingga ribuan karyawan. Hal yang bisa Anda lakukan adalah disiplin pada diri Anda sendiri.

Datanglah tepat waktu, istirahat tepat waktu, dan pulang kantor tepat waktu. Pastikan semuanya selesai pada hari terakhir Anda bekerja di minggu tersebut. Jangan pernah membawa pekerjaan ke rumah. Selain itu, manfaatkan juga jatah cuti tahunan Anda.

Penggunaan teknologi seperti aplikasi Absenku yang mampu memonitor dan mengarsipkan hal di atas akan sangat membantu, baik bagi Anda sebagai karyawan, maupun bagi perusahaan. Anda mampu mengontrol diri Anda, sementara perusahaan juga dapat memiliki data valid mengenai performa dan tingkat disiplin Anda.

Absenku merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone saja, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Karyawan bisa memantau performa mereka sendiri, mulai dari kedisiplinan masuk kerja, kapan mereka ambil cuti dan berapa lama waktu mereka untuk lembur. HRD akan lebih mudah mengontrol absensi karyawan, meng-acc pengajuan cuti, mendata lembur karyawan tanpa harus repot dan banyak lagi.

Pimpinan pun dapat menggunakan AbsenKu Profesional untuk mengecek seluruh data karyawan. Sehingga dari data tersebut dia berhak menentukan, manakah karyawan yang berhak mendapat apresiasi dan mana yang berhak mendapat teguran secara adil.

Pimpinan bahkan bisa memantau seluruh data performa kinerja karyawan secara real time di manapun dia berada tanpa terpaku pada alat yang meribetkan. Cukup dengan satu genggaman saja lewat AbsenKu Profesional, kerja pimpinan akan jadi lebih praktis dan efisien.

Ada juga beberapa yang menganggap bahwa bekerja kurang dari 40 jam/minggu bukanlah hal yang baik dari sisi finansial. Hal ini terutama berlaku untuk para freelancer yang tak memiliki jam kerja tetap.

Dalam kasus tersebut, kuncinya adalah menjalin komunikasi yang baik dengan klien. Stres dari pekerjaan dibantu dengan kesepakatan dengan klien, seperti kapan jam dan hari untuk berkomunikasi mengenai proyek yang tengah ditangani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *