Absenku Professional

Bahayanya Membuat Keputusan Subyektif Dalam Tim

Pernahkah Anda menyadari,  bahwa Anda sering mengambil keputusan bukan karena penilaian objektif?

Misalkan ketika sedang membeli baju. Ada sebuah baju yang modelnya sangat Anda sukai, tapi Anda menolak membeli karena baju itu berwarna hijau. Alasannya? Hijau adalah warna kesukaan mantan pacar yang telah menyakiti Anda.

Kita bisa suka dan benci terhadap sesuatu bukan karena kualitas yang dimilikinya, tapi karena praduga atau alasan yang tak logis. Hal ini disebut bias. Bias sebetulnya merupakan salah satu sifat alami manusia, tapi terkadang sifat ini bisa menimbulkan masalah, terutama jika muncul di tempat kerja.

Mengapa sifat bias bisa muncul?

Otak manusia adalah organ yang sangat hebat, tapi sekaligus terbatas. Dalam satu detik, otak dapat menerima begitu banyak informasi kemudian menyimpannya. Namun, kita tidak bisa mengingat atau memproses informasi-informasi tersebut secara bersamaan.

Ketika harus mengambil keputusan secara cepat, otak cenderung bergantung pada pengalaman yang sudah terjadi secara berulang.

Misalnya, bila melihat lampu oranye berkedip saat berkendara, artinya kita harus hati-hati karena ada kendaraan lain yang hendak berbelok. Sementara bila ada lampu merah, kita harus segera berhenti.

Pengalaman bisa sangat membantu dalam pengambilan keputusan umum.  Tapi di sisi lain, pengalaman juga bisa memunculkan bias. Kita jadi memiliki ekspektasi atau praduga tertentu terhadap sesuatu. Istilah lainnya adalah stereotip. Contoh kecil, jika ada mobil yang memiliki lampu sein berwarna selain oranye, kita  tidak langsung sadar bahwa mobil itu akan berbelok, meski lampu sein sudah menyala.

Praduga ini menimbulkan masalah besar ketika diterapkan kepada manusia.

Tadi kita mengasosiasikan warna lampu dengan reaksi saat berkendara. Lalu, bagaimana bila kita mengasosiasikan warna kulit dengan perilaku seseorang?

Ketika sudah memiliki bias, penilaian kita menjadi tidak adil. Tak hanya warna kulit, bias juga bisa muncul dari gender, usia, agama, atau faktor lainnya. Ketika kita sudah memilikinya, penilaian kita menjadi tidak adil. Kita menganggap seseorang baik atau buruk bukan karena kualitas, tapi karena praduga dan ekspektasi. Hasilnya adalah sikap diskriminatif yang merusak.

Aspek-aspek kerja yang dapat terpengaruh

Bias dapat muncul di berbagai aspek perusahaan. Misalnya saat merekrut karyawan. Apabila Anda punya pengalaman buruk bekerja dengan orang dari ras tertentu, Anda bisa saja enggan menerima karyawan dari ras tersebut. Padahal mereka belum tentu punya sifat yang sama.

Kultur perusahaan juga dapat terpengaruh bias. Contohnya, bila Anda pernah bekerja di perusahaan yang memiliki jam kerja fleksibel, Anda mungkin cenderung ingin menerapkan jam kerja yang sama di perusahaan milik Anda. Tapi apakah kultur seperti itu pasti cocok, sementara perusahaannya berbeda?

Aspek ketiga, yang mungkin paling berbahaya, adalah soal penilaian karyawan. Bias dapat membuat Anda memanjakan karyawan yang Anda sukai dan mendiskriminasi karyawan yang tak Anda suka. Padahal dari segi performa, karyawan yang Anda sukai itu mungkin tidak istimewa.

Terakhir, bias dapat berpengaruh terhadap cara kerja perusahaan itu sendiri. Sama halnya dengan perusahaan mainan yang memasarkan mobil-mobilan pada anak laki-laki dan boneka ke anak perempuan. Anda mungkin mengembangkan produk dan memilih pasar berdasarkan praduga tertentu.

Langkah-langkah menghindari munculnya bias

Ketika Anda memiliki bias yang kuat, pikiran Anda menjadi sempit. Anda bisa kehilangan kesempatan mencoba hal baru, bahkan melewatkan karyawan bertalenta yang datang melamar. Jika terbebas dari bias, Anda bisa menciptakan lingkungan kerja yang adil dan mendorong munculnya ide-ide kreatif.

Contoh praktik desain bebas bias bisa kita lihat pada Google. Dahulu Google memiliki desain emoji yang bias terhadap gender. Sebagian besar emoji dengan karakter pria digambarkan sebagai pekerja profesional seperti polisi, petani, hingga dokter. Sementara karakter wanita hanya digambarkan sebagai pengantin atau pesolek.

Para desainer Google melakukan perombakan di tahun 2017 dengan merilis belasan emoji baru yang menggambarkan wanita di bidang profesional. Langkah ini sederhana, tapi membuat Google lebih diapresiasi oleh kalangan pasar wanita. Desain baru tersebut bahkan mendapat nominasi Designs of the Year dari museum desain London.

Bila ingin terhindar dari bias, Anda bisa menerapkan langkah-langkah berikut:

Langkah pertama adalah menyadari bahaya bias. Dengan menyadarinya, Anda bisa selalu waspada akan kemungkinan munculnya bias sewaktu-waktu.

Kedua, evaluasi sistem perusahaan. Bagaimana Anda menilai kinerja karyawan? Sudahkah Anda memiliki standar yang pasti? Lemparkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan terjadi secara objektif.

Berlakulah adil dalam menilai kinerja mereka. Gunakan tools yang sesuai dan akurat untuk hal ini.

AbsenKu Profesional mampu menjadi solusi terbaik bagi keterbukaan sistem di perusahaan Anda.

AbsenKu Profesional ini merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone saja, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Karyawan bisa memantau performa mereka sendiri, mulai dari kedisiplinan masuk kerja, kapan mereka ambil cuti dan berapa lama waktu mereka untuk lembur. HRD akan lebih mudah mengontrol absensi karyawan, meng-acc pengajuan cuti, mendata lembur karyawan tanpa harus repot dan banyak lagi.

Pimpinan pun dapat menggunakan AbsenKu Profesional untuk mengecek seluruh data karyawan. Sehingga dari data tersebut dia berhak menentukan, manakah karyawan yang berhak mendapat apresiasi dan mana yang berhak mendapat teguran secara adil.

Pimpinan bahkan bisa memantau seluruh data performa kinerja karyawan secara real time di manapun dia berada tanpa terpaku pada alat yang meribetkan. Cukup dengan satu genggaman saja lewat AbsenKu Profesional, kerja pimpinan akan jadi lebih praktis dan efisien.

Selain sistem internal perusahaan, cek juga data output praktik bisnis Anda. Dengan mengecek data, Anda bisa melihat apakah praktik bisnis Anda terlalu terpaku pada asumsi tertentu. Contohnya, apakah demografi pengguna Anda didominasi gender tertentu?

Ciptakan prosedur berstandar. Pengambilan keputusan harus melalui prosedur, bukan hanya berdasarkan “feeling” saja. Bila terjadi perbedaan pandangan, prosedur standar dapat memunculkan hasil yang lebih pasti dan terukur.

Menghilangkan bias sepenuhnya dari dalam diri kita adalah pekerjaan sulit, bahkan mungkin mustahil. Karena itu prinsip yang baik untuk diterapkan adalah mengambil keputusan berdasarkan data. Anda juga perlu mengevaluasi prosedur secara berkala untuk memastikan prosedur itu berjalan sesuai tujuan.

Lingkungan kerja yang bebas diskriminasi akan membuat karyawan setia dan bahagia. Sementara praktik bisnis yang bebas bias dan berbasis data dapat memicu kreativitas serta produktivitas. Selamat bekerja, dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati terhadap bias!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *