Time Based Vs Performance Based, Mana yang Terbaik?

time based vs performance based

Kebanyakan dari kita kerap menghabiskan banyak waktu untuk melihat laporan kinerja tahunan, mendiskusikan performa karyawan dan membahas target mereka berikutnya. Dan sebagian besar dari kita bergantung pada peringkat kinerja tahunan ini untuk menentukan kenaikan gaji tahunan bagi karyawan. Kita familiar menyebutnya dengan skema performance based, skema untuk menilai dan menggaji karyawan berdasar kinerja mereka.

Namun, cara kita bekerja saat ini telah berubah, dan kini sistem peringkat yang tidak jelas tersebut tidak dapat secara akurat mencerminkan kinerja atau memenuhi harapan karyawan. Mengapa?

Karyawan saat ini lebih banyak terlibat dalam kerja kelompok, pekerjaan per proyek, dan gaya kerja non-tradisional lainnya. Peringkat kinerja tahunan dan kenaikan gaji standar tidak dapat secara akurat menggambarkan realita baru ini.

Menurut survei Willis Towers Watson baru-baru ini, hanya 20% eksekutif Human Resource (HR) yang mengatakan program insentif mereka efektif dalam meningkatkan kinerja karyawan. Bahkan, lebih dari seperempat pengusaha (26%) mengaku harus membayar bonus kepada karyawan yang sebetulnya kinerjanya tidak memenuhi harapan.

Lalu, apakah skema pemberian insentif pada karyawan berdasar performance based adalah hal yang buruk? Apakah time based adalah skema yang lebih baik? Mulailah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Jenis kompensasi apakah yang benar-benar dapat menghargai kinerja karyawan?

Sangat mudah untuk mengasumsikan semua orang menginginkan lebih banyak uang, tetapi realitanya kenaikan gaji tidak selalu menjadi hal yang paling dihargai oleh karyawan Anda. Menurut survei terbaru dari Glassdoor, hampir 80% karyawan lebih memilih tunjangan atau fasilitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dibanding pemberian bonus berupa uang atau kenaikan gaji. Alih-alih memberi lebih banyak insentif berupa uang, Anda harus melihat lebih dekat seperti opsi saham, jadwal kerja yang lebih fleksibel, pemberian beasiswa studi lanjutan, kenaikan kelas jaminan kesehatan, maupun liburan gratis untuk dirinya dan keluarga.

Jika Anda paham mengenai apa yang benar-benar berguna bagi kesejahteraan karyawan, skema performance based akan lebih efektif. Namun, jika menurut Anda insentif berupa uang tetap menjadi yang terbaik bagi mereka, time based sebetulnya lebih efektif. Insentif berupa uang cenderung menjadi isu yang sensitif di antara karyawan. Terkait validitas indikator untuk pengukuran, time based tetap yang terbaik. Ukurannya jelas, bekerja sesuai waktu yang telah ditentukan. Jika ada pekerjaan tambahan di luar jam kerja, ada skema lembur.

Jadi, bentuk kompensasi yang akan diberikan juga berpengaruh pada skema apa yang cocok diterapkan. Pikirkan hal ini dengan mendalam.

Seberapa besar peran karyawan Anda terhadap keberhasilan perusahaan?

Tidak masalah untuk menawarkan insentif atau fasilitas lebih banyak kepada karyawan tertentu yang memiliki peran besar terhadap keberhasilan perusahaan Anda. Identifikasi peran dan keahlian yang paling penting bagi perusahaan Anda. Ketika Anda memiliki pemahaman yang jelas tentang keterampilan dan pengetahuan yang paling penting untuk model bisnis Anda, Anda dapat merancang skema kompensasi yang lebih baik. Hal ini akan memungkinkan Anda untuk mempertahankan pekerja dengan kompetensi tersebut.

Manajer yang cerdas sudah tentu mempertimbangkan hal ini. Menurut survei Willis Towers Watson, hanya 19% skema penilaian kinerja konvensional yang memperhitungkan kekritisan peran pekerja. Sementara 42% manajer mengatakan bahwa mereka benar-benar mempertimbangkannya ketika akan mengambil keputusan mengenai pemberian insentif.

Dalam skema performance based, job description, jumlah dan besar tidaknya lingkup proyek yang diselesaikan bisa menjadi ukuran. Tetapkan key performance indicator yang adil bagi semua karyawan, sehingga tidak ada suara miring ketika Anda sudah mengambil keputusan karyawan mana yang mendapat insentif lebih banyak.

Pada skema time based, Anda bisa menjadikan ketepatan waktu datang karyawan dan jumlah lembur yang diambil sebagai patokan. Tinggalkan gaya pengarsipan kedatangan dan kehadiran yang konvensional. Anda perlu teknologi yang tepat jika memutuskan menggunakan skema time based, karena jika tidak Anda akan membuang banyak waktu hanya untuk melakukan rekapitulasi kedatangan, kehadiran, serta lembur secara manual.

AbsenKu Profesional mampu menjadi solusi terbaik bagi keterbukaan sistem di perusahaan Anda.

AbsenKu Profesional merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Karyawan bisa memantau performa mereka sendiri, mulai dari kedisiplinan masuk kerja, kapan mereka ambil cuti dan berapa lama waktu mereka untuk lembur. HRD akan lebih mudah mengontrol absensi karyawan, menyetujui pengajuan cuti, mendata lembur karyawan tanpa harus repot dan banyak lagi.

Pimpinan pun dapat menggunakan AbsenKu Profesional untuk mengecek seluruh data karyawan. Sehingga dari data tersebut dia berhak menentukan, manakah karyawan yang berhak mendapat apresiasi dan mana yang berhak mendapat teguran secara adil.

Pimpinan bahkan bisa memantau seluruh data performa kinerja karyawan secara real time di manapun dia berada tanpa terpaku pada alat yang meribetkan. Cukup dengan satu genggaman saja lewat AbsenKu Profesional, kerja pimpinan akan jadi lebih praktis dan efisien.

Dapatkah Anda memastikan efek pemberian insentif pada keberhasilan perusahaan?

Menurut survei perencanaan kompensasi Mercer, anggaran peningkatan gaji untuk perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat diperkirakan kurang dari 3% persen tahun ini. Akibatnya, sulit untuk memberi penghargaan kepada karyawan yang sangat baik hanya dengan gaji pokok.

Jika Anda menghadapi situasi yang sama, segera putar otak untuk mencari cara memberikan kompensasi yang berbeda, misal dengan menawarkan insentif dan fasilitas yang terkait langsung dengan metrik yang mendorong keberhasilan perusahaan. Misal, pemberian laptop model terbaru dengan spesifikasi terkini untuk programmer terbaik Anda. Atau pemberian beasiswa maupun kelas sertifikasi profesi bagi akuntan Anda. Karyawan Anda bahagia, kinerjanya pun makin meningkat.

Sementara pada sistem time based, pastikan lembur-lembur yang mereka ambil adalah hal yang bisa meningkatkan produktivitas perusahaan, bukan lembur karena mereka menunda pekerjaan pada jam kantor. Begitupun jika Anda ingin memberi insentif pada karyawan yang tidak pernah datang terlambat selama 3 bulan berturut-turut, pastikan hal itu membuatnya jauh lebih produktif dan memberi peran lebih pada perusahaan. Jika tidak, cukup berikan apresiasi secukupnya, seperti penyematan gelar karyawan teladan atau semacamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *