Ini Penyebab Karyawan Terbaik Anda Resign

penyebab karyawan resign

Karyawan adalah aset terpenting perusahaan. Kehilangan karyawan terbaik kerap ditebus dengan harga mahal oleh perusahaan yang ditinggalkan. Penjualan perusahaan Anda mungkin akan menurun jika ia adalah penanggung jawab pemasaran, atau kualitas produk memburuk jika ia adalah kepala produksi perusahaan Anda.

Anda dan tim Human Resource (HR) harus bisa menyeimbangkan kebutuhan rekrutmen tenaga baru dan memperhatikan kebahagiaan karyawan yang telah bergabung lebih dahulu. Selain itu Anda juga perlu memikirkan skema regenerasi karena puncak produktivitas seseorang tidak bisa berlangsung selamanya.

Perlu ada strategi manajemen HR yang tepat untuk meminimalisir kemungkinan perginya karyawan terbaik. Identifikasi hal-hal apa saja yang bisa membuat karyawan-karyawan terbaik meninggalkan perusahaan Anda.

Berikut beberapa penyebab mengapa karyawan-karyawan terbaik pergi meninggalkan perusahaan Anda.

Visi perusahaan tidak jelas

Anda salah besar jika mengira hanya jajaran direksi yang bisa membaca prospek dan mengetahui kondisi perusahaan. Karyawan Anda yang berada di level staf pun sebetulnya turut mengamati dan mengidentifikasi kondisi serta prospek perusahaan di masa depan. Bahkan terkadang, pengamatan langsung dari para karyawan yang kesehariannya turun langsung berhadapan dengan pelanggan dan memproduksi barang/jasa ini lebih jeli dibanding jajaran direksi yang hanya menerima laporan dari manajer.

Para profesional yang telah bekerja bertahun-tahun di industri yang sama tidak akan bisa dibuai dengan mimpi yang terlalu tinggi dari perusahaan tempat ia bekerja. Mereka akan jeli mengamati situasi yang terjadi di sekitar, mulai dari kesehatan finansial perusahaan, arah kebijakan, dan lain-lain.

Jika perusahaan sudah memperlihatkan pertanda buruk yang berpotensi merugikan karyawan di kemudian hari seperti keputusan direksi yang tidak konsisten, skema pembagian insentif yang tidak transparan sehingga memancing kecurigaan nepotisme, dan lainnya, bisa menjadi sinyal bagi mereka untuk mencari tempat kerja baru.

Jika perusahaan Anda memang memiliki visi, pastikan bahwa karyawan-karyawan Anda memahami visi itu.

Beban kerja tidak merata

Beban kerja berlebih adalah penyebab utama seseorang menjadi membenci pekerjaan mereka, bahkan bagi workaholic sekalipun.

Jangan sampai beban kerja menjadi tidak merata pada level posisi yang sama, ada yang harus menyelesaikan 2-3 pekerjaan dalam satu hari, ada yang hanya perlu menyelesaikan 1 pekerjaan dalam 1 hari. Ada yang bahkan harus melewatkan jam istirahatnya agar pekerjaannya bisa selesai, ada yang bisa beristirahat sampai berkali-kali saking menganggurnya.

Manajemen perlu mempertimbangkan dampak overwork terhadap beberapa karyawan dan memberikan apresiasi lebih seperti tambahan masa cuti, atau lain sebagainya.

Kondisi overwork pasti terjadi di era serba kompetitif seperti sekarang, baik di lingkup perusahaan besar maupun dalam startup. Oleh karena itulah sebagai pimpinan perusahaan Anda perlu menekankan bahwa kerja cerdas lebih dibutuhkan dibanding hanya kerja keras. Kerja cerdas akan membuat karyawan-karyawan terbaik Anda merasa lebih dimanusiakan.

Perusahaan tidak apresiatif

Seperti manusia normal pada umumnya, karyawan-karyawan Anda juga ingin dihargai atas pencapaian yang telah diperoleh. Penghargaan bisa menjadi motivasi untuk terus melakukan yang terbaik saat bekerja.

Minimnya apresiasi juga bisa menjadi pemicu karyawan untuk melirik tawaran kerja lain yang ada di luar perusahaan. Pemberian apresiasi tak harus berupa kenaikan gaji atau insentif. Sekadar penambahan jatah dan kemudahan pengajuan cuti, atau rutin makan malam bersama tim di restoran terbaik kota Anda 1 bulan sekali akan menunjukkan betapa perusahaan memang memandang mereka sebagai manusia, bukan robot.

Bisa juga dengan memberikan fasilitas terbaik di kantor, seperti laptop, smartphone atau perangkat apapun yang mendukung pekerjaan, akan membuat karyawan terbaik Anda merasa diperhatikan.

Dengan memberikan apresiasi, setidaknya karyawan tidak merasa diperas dari segi tenaga mereka saja. Tidak harus selalu pada karyawan Anda dengan pencapaian terbaik. Bangun budaya memberi apresiasi pada keberhasilan sekecil apapun. Tentunya besaran apresiasi tersebut tetap menyesuaikan keberhasilan tersebut.

Misal apresiasi voucher menginap atau makan untuk mereka yang selalu datang tepat waktu selama sebulan, hari libur khusus untuk mereka yang berhasil mencapai target di bulan itu, atau apapun.

Yang paling penting, Anda harus memastikan bahwa mereka yang mendapat apresiasi memang layak mendapatkannya.

Gunakan aplikasi yang dapat memonitor masalah kedatangan, jam pulang, hingga lembur dengan mudah dan cepat. AbsenKu Profesional bisa menjadi solusi tepat.

AbsenKu Profesional merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Kondisi yang menjemukan

Seorang profesional, baik di perusahaan besar maupun startup, tentu tidak ingin terjebak dalam kondisi yang menjemukan selama bertahun-tahun.

Ada beberapa kondisi menjemukan yang bisa terjadi. Misal, seseorang melakukan rutinitas pekerjaan yang sama berulang-ulang tanpa merasakan perubahan berarti. Hal ini bisa menyebabkan rasa jenuh.

Untuk mengatasi ini, perusahaan perlu menciptakan jenjang jalur karier yang jelas, agar karyawan bisa melihat ke mana arah mereka di masa akan datang.

Kondisi menjemukan juga bisa terjadi jika banyak permasalahan berlarut-larut dan tidak kunjung ada solusinya. Bukannya malah tertantang, karyawan terbaik Anda justru akan merasa muak.

Terkait hal ini, perusahaan perlu memberikan kesempatan karyawan untuk menyumbang ide baru dan perusahaan jangan ragu mengimplementasikannya. Jangan hanya meminta mereka menyumbang ide tapi ujung-ujungnya jajaran direksi justru mencecarnya bahwa ide tersebut buruk serta tidak memungkinkan dijalankan perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *