Anda HR di Perusahaan Industri Kreatif? Pahami 5 Hal Ini

HR di perusahaan kreatif

Perusahaan yang bergerak di industri kreatif sama ubahnya dengan perusahaan pada industri lainnya, mengejar untung agar bisa terus tumbuh dan berkembang. Namun, karyawan mereka memiliki skema tersendiri dalam bekerja. Skema inilah yang membuat perbedaan besar, sehingga ada beberapa hal yang perlu Anda lebih cermati sebagai seorang pimpinan divisi Human Resources (HR).

Beberapa di antara mereka terlihat sangat santai, terkadang lebih berisik, serta gaya busana yang tidak seperti pekerja profesional pada umumnya.

Bagaimana seharusnya Anda bergerak sebagai seorang HR di perusahaan seperti itu? Kami berikan beberapa saran.

1. Hilangkan judgement

Mungkin saat Anda masuk ruangan tim produksi, Anda akan mendapati sekumpulan orang dengan tampilan lusuh, hanya menggunakan kaus, sendal atau bahkan celana pendek. Tampilan yang ‘seenaknya’ sendiri seperti itu memang seperti sudah jadi ciri khas perusahaan-perusahaan di industri kreatif, meskipun tidak semuanya tentu saja.

Pertama yang harus Anda pastikan adalah apakah penampilan mereka berpengaruh pada produktivitas perusahaan? Jika tidak ada keterkaitan, abaikan hal itu. Apalagi mereka ‘hanya’ orang di belakang layar, Anda tidak memiliki kewajiban mengatur bagaimana seharusnya penampilan mereka.

Jangan langsung men-cap bahwa tampilan mereka yang seperti itu tidak baik bagi citra perusahaan. Apalagi di era sekarang, banyak perusahaan yang lebih menyukai bekerja dengan mereka yang nampak dinamis. Anda hanya cukup memastikan setidaknya mereka menjaga kebersihan tubuh demi kenyamanan bersama dan tentu saja sopan santun saat harus berhadapan dengan klien.

2. Sedang menyusun tata tertib? Fokuslah hanya pada hal-hal fundamental

Lupakan aturan kewajiban penggunaan kata ‘bapak’ atau ‘ibu’ untuk memanggil para pimpinan perusahaan. Pada umumnya, suasana kerja di perusahaan kreatif lebih menyenangkan dan luwes. Jangan Anda rusak dengan hal-hal yang sebetulnya tidak esensial seperti itu. Di perusahaan-perusahaan kreatif, sangat biasa seorang staf memanggil atasannya hanya dengan nama panggilan. Salah satu alasannya adalah agar semua yang bekerja di perusahaan terbuka untuk berpendapat dan berdiskusi.

Cukup atur saja hal-hal yang fundamental, seperti misal terkait waktu kedatangan dan pulang karyawan, aturan cuti, lembur, hingga masalah insentif. Digitalisasikan semuanya agar tetap simpel, cepat dan transparan. Pastikan tak ada waktu Anda yang terbuang sia-sia hanya untuk mengurus rekapitulasi kehadiran karyawan.

AbsenKu Profesional mampu menjadi solusi terbaik bagi keterbukaan sistem di perusahaan Anda.

AbsenKu Profesional merupakan aplikasi absensi berbasis cloud yang memungkinkan setiap anggota tim melakukan absensi secara digital. Tak terbatas tempat dan alat, aplikasi AbsenKu Profesional dapat digunakan di manapun (di tempat yang diperbolehkan perusahaan) dan juga tanpa alat scanner tambahan, cukup dengan smartphone, semua anggota tim bisa melakukan absensi.

Tak hanya itu saja, aplikasi AbsenKu Profesional juga bisa dimanfaatkan untuk mengelola data cuti dan jam lembur karyawan. Sehingga seluruh data absensi, cuti maupun lembur karyawan akan terkumpul secara jelas dan akurat.

Karyawan bisa memantau performa mereka sendiri, mulai dari kedisiplinan masuk kerja, kapan mereka ambil cuti dan berapa lama waktu mereka untuk lembur. HRD akan lebih mudah mengontrol absensi karyawan, menyetujui pengajuan cuti, mendata lembur karyawan tanpa harus repot dan banyak lagi.

Pimpinan pun dapat menggunakan AbsenKu Profesional untuk mengecek seluruh data karyawan. Sehingga dari data tersebut dia berhak menentukan, manakah karyawan yang berhak mendapat apresiasi dan mana yang berhak mendapat teguran secara adil.

Pimpinan bahkan bisa memantau seluruh data performa kinerja karyawan secara real time di manapun dia berada tanpa terpaku pada alat yang meribetkan. Cukup dengan satu genggaman saja lewat AbsenKu Profesional, kerja pimpinan akan jadi lebih praktis dan efisien.

3. Buat program yang dapat memancing gagasan menarik

Tak hanya outing setahun sekali atau makan siang bersama sebulan sekali. Sebetulnya ada banyak hal yang bisa Anda lakukan supaya para karyawan selalu memiliki ide dan gagasan segar. Anda bisa memulainya dari desain ruang kerja karyawan, misal dengan sistem open office tanpa sekat, ubah cat tembok dengan warna-warna cerah, tambahkan beberapa pernak-pernik simpel untuk menyegarkan mata, jenis-jenis wewangian tertentu yang memiliki efek menenangkan, atau bisa juga board game yang bisa dimainkan karyawan saat suntuk.

Anda juga bisa mengatur mengenai pemutaran musik-musik tertentu sesuai kesepakatan bersama pada jam istirahat. Atau bahkan jika memungkinkan, pada jam kerja. Pilihlah jenis musik yang menenangkan dan meningkatkan konsentrasi.

Sebagai HR di perusahaan kreatif, Anda juga dituntut untuk kreatif. Jangan hanya berpatokan pada program-program konvensional yang telah diwariskan para pekerja lama, tapi berinovasilah.

4. Berikan teladan

Pada umumnya, karyawan di perusahaan kreatif adalah para generasi milenial. Bekerja dengan generasi ini perlu siasat tersendiri.

Beberapa pakar menyebut, bekerja bersama millennial mirip seperti mendidik anak. Bila kita ingin anak rajin beribadah, maka kita sebagai orang tua harus memberi contoh terlebih dahulu.

Millennial adalah generasi yang sangat menghargai pencapaian, dan mereka segan pada orang-orang yang lebih hebat dari mereka. Jadilah teladan yang baik bagi mereka, dan lihatlah mereka tumbuh menjadi pejuang yang tangguh, namun pada saat bersamaan juga rendah hati. Jika Anda menginginkan mereka disiplin terhadap waktu, mulailah dari diri Anda. Datanglah ke kantor lebih awal, atau ke ruang rapat sebelum yang lain datang, maka mereka akan menghargai Anda.

5. Bisa memposisikan diri sebagai teman

Meski pada umumnya suasana kerja di perusahaan kreatif relatif lebih menyenangkan dibanding perusahaan di industri lain, bukan berarti para pekerjanya tak rentan dari gejala stres. Justru, mereka sangat dekat dengan itu. Ada banyak faktor, seperti permintaan klien yang kerap tak masuk akal, deadline yang seolah sudah seperti makanan sehari-hari, hingga beban pekerjaan yang seharusnya dikerjakan 4 orang tapi harus dia hadapi sendirian.

Karena itulah mereka butuh sosok HR yang bisa menjadi teman, bukan sosok kejam yang hanya muncul saat menghakimi para pelanggar peraturan.

Tak harus selalu memberi nasihat, sekadar mendengarkan keluh kesah mereka pun cukup. Atau jika memungkinkan, jadilah penghubung antara mereka dengan pimpinan perusahaan jika masalah mereka tergolong berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *